• #31harimenulis,  #31harimenulis2013

    #17 Chapter

    Source Travng melangkahkan kakinya memasuki Mostach disambut gemerincing lonceng di depan pintu. Mostach. Kata itu terus terngingang-ngiang di kepalanya sejak pertama kali ia melihat papan nama itu seminggu yang lalu. Sore itu Travng ingin menikmati senja, maka ia berjalan menusuri bentangan trotoar yang berada tak jauh dari tempatnya menginap. Di ujung trotoar, di pertigaan jalan, ada sebuah rumah makan kecil berlantai empat yang selalu penuh dengan turis. Selain ornamen jawa yang kental, Travng suka dengan ruang makan rooftop yang disediakan disana. Tempat yang indah untuk menikmati senja sambil meminum teh pahit panas. Masih setengah jalan menuju tempat makan itu, ia melihat sebuah bookstore dan coffee shop yang menarik perhatiannya. Motsach.…

  • #31harimenulis,  #31harimenulis2013

    #16 Open

    Source Motsach sepi siang itu. Hanya seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk di balik meja pengunjung. Ia sedang sibuk membereskan sisa minuman orang yang datang sebelumnya. Pintu bergemerincing lagi, seorang lelaki muda masuk ke dalam Mostach. Perawakannya tinggi kurus dan raut mukanya menyiratkan dengan tegas bahwa ia bukan penduduk asli. Matanya berwarna hazelnut, dan ketika berbicara kata-katanya berlogat asing yang belum didengar sebelumnya. [5…] Baca cerita sebelumnya disini

  • #31harimenulis,  #31harimenulis2013

    #15 – Motsach

    Motsach masih berdiri kokoh disana. Pintu tidak pernah berhenti bergemerincing, setiap menit ada saja orang yang keluar masuk. Motsach masih berdiri kokoh, bersiap menjadi saksi bisu atas kisah-kisah yang mengalir dari bibir-bibir penungnjungnya. [3…] Baca cerita sebelumnya disini

  • #31harimenulis,  #31harimenulis2013

    #13 In Repair

    Source Sella bertaruh pada waktu, menggaransikan cintanya pada hitungan detik yang ia punya. hasilnnya? Nihil, cinta itu busuk sebelum waktunya. Ia pernah membaca sebuah buku, katanya, cinta punya batas kadaluarsanya jika kau menggaransikannya pada waktu. Kini semua terbukti. Rasa cintanya sudah terlampau basi. Dinda selalu mencari alasan di setiap langkah yang ia ambil. Ia punya alasan mengapa ia menghancurkan persahabatannya, ia punya alasan mengapa ia bisa jatuh cinta sekaligus merasa bersalah pada seseorang yang bukan miliknya… bahkan ia bisa memberimu 50 daftar alasan mengapa ia berani melangkah terlalu jauh demi egonya sendiri. Yang tidak ia tahu, pencarian alasan hanya untuk orang yang ingin lepas dari tanggungjawab. *** Dan mereka berdua…