• Uncategorized

    #7 Tangled Threads

    Source   Dinda masih duduk didalam Mostach. Gelasnya sudah diganti dengan yang baru, segelas ice banana blue untuk kembali menyegarkan pikirannya. Ia kembali menyulut sebatang rokok, rokok ketiga yang ia hisap setelah Sella memutuskan untuk pulang dan beristirahat, menutup harinya yang buruk dengan cepat. Tak lama, suara derap langkah kaki terdengar mendekati meja Dinda. Lelaki itu. Ia lalu duduk di hadapannya dan menatap matanya tegas. Dinda kehabisan kata-kata. Matanya sibuk menerawang keluar jendela, membayangkan kalau ini semua tidak pernah terjadi. “Bagaimana?” Tanya lelaki itu singkat. Dinda menggeleng. Beberapa saat kemudian, tangisnya tumpah. Batinnya teriris oleh sikapnya sendiri. [4…] cerita sebelumnya bisa dibaca disini.

  • #31harimenulis,  #31harimenulis2013

    #6 Now You Know

    Source Lelaki Bermata Hazelnut itu menatap perempuan yang duduk di depannya. “Sejak kapan kau sampai disini?” tanyanya. “Baru saja. Kau terlalu sibuk dengan bacaanmu.” Ucap si perempuan sambil mengambil majalah si lelaki dan membolak-baliknya. “Kapan kau berangkat?” “Lusa. Mau ikut?” jawabnya bercanda. Si perempuan hanya bisa tertawa sambil menggeleng. “Jadi aku harus meninggalkan tunanganku disini sendirian?” Si Lelaki Bermata Hazelnut tertawa. “Ayolah, masih banyak tempat yang harus kau lihat, masih banyak pantai yang belum kau kunjungi, masih banyak lagu yang belum kau dengar sebagai backsound obrolan kita nanti..” Si perempuan hanya bisa tertawa. “Kau terlalu banyak baca novel roman.” Ia lalu menggeleng, berdiri berbalik arah, dan meninggalkan si Lelaki Bermata…

  • #31harimenulis,  #31harimenulis2013

    #5 Hazelnut

    Source   Lelaki itu bermata hazelnut. Dimejanya terdapat secangkir espresso panas yang uapnya masih mengepul, menjelma menjadi embun yang merayap di dinding kaca tempat bahunya bersandar. Lelaki itu mengubah posisi duduknya. Matanya tak lepas dari buku Traveling Asean yang dibacanya. “Tujuanmu hanya ke Asean?” tanya sebuah suara. Lelaki bermata Hazelunt itu diam untuk sepeersekian detik mencari asal suara. Ia hapal pemilik suara itu. “Ya…” katanya sambil mengangguk dan menutup majalah yang sedang dibacanya. “Ya, Asean.” [1…]

  • #31harimenulis,  #31harimenulis2013

    #4 Fidélité

    Source Paris, Desember 1991. Pagi ini Paris diselimuti es sisa hujan salju semalam. Sejauh mata memandang, semuanya tampak putih. Dari genting-genting rumah, pohon, lampu jalanan, hingga atap mobil. Salju-salju itu juga menutupi seluruh halaman rumah di Perumahan Boîtier. Terlihat mobil-mobil pengeruk salju di jalan sedang beroperasi, diikuti beberapa petugas yang juga mengeruk tumpukan salju dengan sekop.  Suhu udara pagi ini minus sepuluh derajat celcius, kata pembawa acara perkiraan cuaca pagi ini di televisi. Troyes Haegen merapatkan jaketnya, menaik resletingnya sampai ke batas dagu. Ia lalu mengganti sandal rumahnya dengan sepatu boot. Ia hendak keluar rumah ketika Ibunya keluar dari kamar tidur. “Pour l’amour de Dieu (demi Tuhan), Troyes! Ini baru…

  • #31harimenulis,  #31harimenulis2013

    #3 Edge of Desire

    Source Sella menaiki anak tangga terakhir yang membawanya naik ke Mostach Coffee Shop. Ia celingukan memandang sekeliling ruangan mencari sosok Dinda. Tak lama kemudian matanya menangkap sosok perempuan dengan panjang rambut sebahu berwarna merah menyala: Dinda. Dengan langkah setengah diseret, Sella mendekati Dinda dan langsung menduduki kursi kosong di hadapannya. Persis ketika Sella duduk, Dinda meletakan ponsel dan menatap sahabatnya itu dengan tatapan takjub. Ia tidak lagi mengenalinya. “Sorry to say, tapi sumpah, tampang lo ancur banget…”  Sella tersenyum hambar. “Ah, gue udah nggak peduli lagi, Din… Lo habis ngerokok ya?” Sella memperhatikan asbak berisi puntung rokok yang tampak masih mengeluarkan sedikit asap. “Iya, iseng.” “Oh…” Sella mengangguk. Ia lupa…