• #FF2in1,  fiksi

    Kisah Petik #FF2in1 (2)

    Namaku Petik, usiaku 40 tahun, cukup tua untuk menjadi sejarah. Tak seperti biasanya, hari ini aku duduk di sudut ruangan menunggu siapapun yang datang dan turut meramaikan sanggar. Hmm, sebenarnya aku menunggu Neng Asih, perempuan sunda berusia dua puluh dua tahun yang selalu bisa membuatku tersenyum dan bersedih disaat yang bersamaan. Tidak ada yang tidak jatuh hati pada Neng Asih. Ia keturunan Kerajaan Sunda, darah Sunda mengalir kental dalam tubuhnya. Ia gemulai menarikan tari Jaipong, mendendang merdu Pupuh-pupuh Sunda, dan pintar memainkan alat musik klasik. Siapa yang tidak jatuh hati dibuatnya? Ini sanggar milik keluarga Neng Asih. Dia adalah generasi ke dua puluh yang mengelola sanggar ini. Dikumpulkannya anak-anak dari…

  • #FF2in1,  fiksi

    Sepasang Keping Uang Logam. #FF2in1 (1)

    Hatiku selalu perih ketika melewati toko sepeda. Aku selalu terbayang tangismu yang tiba-tiba pecah. Kau ingin sepeda, semua temanmu sudah punya. Kau selalu merengek padaku ketika melihat teman-teman sebayamu yang sudah memiliki sepeda roda tiga dan memainkannya di depanmu sambil membunyikan nyaring belnya. Hatiku seperti diiris, bagaimana tidak, sebagai kepala kelaurga aku akan bertanggungjawab penuh atas hakmu sebagai anak. Pendidikan adalah prioritas utamaku untukmu, dan yang sedang mati-matian berusaha kupenuhi. Semua tawaran nukang aku sanggupi demi sebongkah tabungan investasi pendidikanmu. Masih di luar toko sepeda, aku memandang sebuah sepeda mini roda tiga berwarna biru. Aku tahu sepeda itu pasti tak akan tahan terlalu lama. Tubuhmu terus tumbuh, Nak. Kau akan…

  • #FF2in1,  fiksi

    Sepatu #FF2in1 (2)

    Ucok berdiri dibawah tiang bendera. Matahari bersinar terik diatas kepala anak sepuluh tahun itu hingga bayang-bayangnya tak nampak karena dimakan telapak kakinya sendiri. Kaki, huh. Ucok menatap ke bawah. Tangan kanannya masih dimirigkan 45derajat sementara matanya memandang kakinya lekat-lekat. Sepatu putih. Karena sepasang alas kaki inilah dirinya dihukum berdiri sambil hormat dibawah tiang bendera. Ini hari senin, semua murid wajib memakai sepatu warna hitam untuk upacara. Ucapan Pak Kepala Sekolah masih terngiang-ngiang di benaknya. Ucok kesal. Toh bukan kemauannya jika sepatu warna hitam, satu-satunya yang ia miliki malah mengibarkan bendera putih tanda halusinasi yang berarti minta ampun untuk tidak dipakai lagi. Solnya megap-megap kehabisan lem, bagian depannya jebol karena dipaksa…

  • #FF2in1,  fiksi

    Koin #FF2in1 (1)

    Ini keping terakhir, sisa dari bekalku yang tak seberapa. Menetes peluh demi mendengar suara merdumu, nona, aku rela. Di ujung gagang ini kuhela napas penuh deru. Habis berlari menghindar dari letusan timah panas yang diserangkan segerombolan orang berseragam yang tak berprikemanusiaan. Menganggap aku, dan sekawanan gerombolanku bagai sekumpulan hewan ternak tak berakal yang siap menemui ajalnya di ujung timah panas itu. Satu nada masih berdering, menggantung dalam satu oktaf putus-putus. Kau masih juga belum mengangkat teleponku. Sedang apa kau, Nona? Kotak 1x1meter ini menyelamatkanku. Untuk sementara. Di luar masih riuh redam: orang-orang bergejolak, berteriak bersahut-sahutan menyambut perubahan yang akan datang.  Aku salah satu diantaranya, Nona. Aku. Nada satu oktaf itu…