• d,  Galau

    Tentang Cinta dan Sakit Hati

    Mereka datang satu paket dan melengkapi, bukan membenci.Mereka terkadang datang malu-malu, kadang juga kurang ajar langsung maju.Mereka menggerogoti diri dari dalam, membuat rapuh lalu menjadikannya lapuk.Mereka menular, dari hati, ke pikiran, lalu menyebar dan melumpuhkan sistem syaraf untuk berpikir logis.Mereka licik, mengelabui kelenjar air mata dan menciptakan topeng palsu untuk digunakan. Tapi yang perlu diingat,Mereka selalu ada, bersemayam di salah satu sudut hati.Mereka menunggu untuk dibangunkan, atau dipancing untuk bangun.Hanya satu kunci yang diperlukan untuk membukanya. Kamu.Dan perasaan terhadapmu seperti ini,yang perih dipendam hampir membusuk,namun terlalu letih untuk diungkapkan.Aku rasa kita sama-sama mengerti.Cintadansakit hati.

  • Curhat,  Damn,  Galau,  Life,  Love Story

    Fiksi Untuk Sebuah Malam

    Yang sebenarnya saya butuhkan ketika ‘ini’ kembali terjadi adalah diam dan meresapi. Apa yang harus saya lakukan agar semuanya tak melebihi batas? Saat memejamkan mata dipenutup hari, saya selalu refleksi. Mengapa begini? Terjebak dan hampir jatuh untuk kedua kalinya. Ketegasan hilang ditutup rasa. Sungkan, enggan, dan menikmati. Kenapa saya menjadi seringan ini? dimana bantingan kuat yang memekakan telinga?  Yang saya butuhkan hanyalah segelas air putih untuk pendamping obat. Bukan, bukan bantuan wafer cokelat yang dikunyah halus seperti kemarin malam. Refleksi, refleksi, Diaz. Dua puluh-mu menanti. Siap menerkam dan menghantui. Apa yang telah kamu lakukan untuk perubahan?? Sahabatku, usai tawa ini, Izinkan aku bercerita:Telah jauh, ku mendaki. Sesak udara di atas puncak khayalan. Jangan…

  • Begadang,  Curhat,  Damn,  Galau,  I Think...,  Life,  Love Story

    Kelabu

    Kapan seseorang akan belajar mengerti? Pertanyaan itu terlintas tak sengaja ketika saya memikirkan sesuatu yang kelabu. Saya sedang berpikir, apakah yang saya lakukan ini baik? Inilah saya, kadang terlalu banyak memikirkan pendapat orang lain. Seperti mampet. Kalau diibaratkan nyanyian, saya hanya akan berusaha bernyanyi dengan suara falset hingga suara saya menipis, memburuk, dan hilang, dibandingkan dengan teriakan bernada dengan sedikit resiko. Fals. “Kapan seseorang akan belajar mengerti” adalah sebuah pertanyaan dan pernyataan yang egois. Ya, saya tahu itu. Tapi kapan, kapan seorang manusia bisa lepas dari keegoisan? Tentang kelabu ini, membuat saya sedikit bimbang. Saya terperangkap lagi. Ada seseorang yang menuang hitam diatas kelabu yang hampir saya buat menjadi putih. Kata seorang teman, “Kamu nggak bakal…

  • Damn,  Galau,  I Think...

    JENUH!

    1. Kita hidup dalam batasan privasi. Aku memang terbuka, tapi tidak untuk yang ini. Jangan mencoba menjadi ucapanku, yang aku sendiri pun belum tentu akan mengucapkannya. 2. Waktu memburuku. Bahkan tanpa spasi dan tak ada kata “sempat”. Mereka memburuku. Dengan ancaman menggandakan waktu. Kata memburuku. Menjerit ingin dirangkai tanpa didasari apa-apa. Abjad pertama memburuku. Berbelas pun mereka tak sanggup karena mereka tak menahu. 3. Aku memiliki prioritas sehingga menyababkan semuanya semu. Dari awal aku memang tak mau. Gelar itu hantu. Yang terus datang dan merayapi pikiranku. Biarkan aku lepas, bukankah kita sama-sama bilang akan menghargai pendapat? Dengarkan alasanku, dan resapi pemikiranku. Dan biarkan aku lepas dari belenggu. 4. Aku pinjam…

  • Begadang,  Curhat,  Damn,  Galau,  Jalan-jalan,  Kontrakan

    Bohong: Kata Tanpa Makna

    Dialog ini terjadi ketika saya dan Astiti sedang memperingati hari galau. Hari galau adalah hari setelah kita bercerita panjang lebar tentang keluh kesah kehidupan (lebay). Hahaha.. Jadi gini, malam itu saya dan astiti sih niatnya cuma muter-muter gak jelas ke Malioboro. Tapi, setelah tahu ternyata gak ada yang menarik di Malioboro, saya dan Astiti langsung puter balik menuju Angkringan Kopi Jos. Di Angkringan Kopi Jos, kami duduk di sebelah Bapak-Bapak Mencurigakan (BBM). Nggak ada angin nggak ada hujan, si BBM ngajak kita ngobrol. Kira-kira seperti inilah pembicaraannya: BBM: Asli Kuliah ya, mbak? Astiti (A): Iya BBM: Dimana? A: Teknik, pak. BBM: Teknik apa? Sipil? A: Bukan, arsitek BBM: kalau itu…