• Life,  Love Story

    Komitmen

    Komentar suatu “diskusi” ringan seusai evaluasi di kantor tadi cukup menggelitik. Geli sekaligus galau. Khas anak muda kekinian. Temanya: KOMITMEN. Komitmen? Mendengar kata itu saja mungkin sebagian orang sudah bergedik ketakutan. Sebagian lagi, mungkin santai-santai saja sambil menyeruput kopi panasnya… termaksuk saya. Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin.Will you still love them, then?That’s why you need commitment.Don’t love someone because of what/how/who they are.From now on, start loving someone, because you want to. –Test Pack, Ninit Yunita Pertama…

  • fiksi,  Love Story

    Lost

    Source Ada yang hilang dari sorot matanya. Mata yang biasanya menatapku tajam itu tiba-tiba melunak, hampa tanpa harapan. Menyisakan bertubi-tubi pertanyaan yang sekaligus membuatku lemas. Ia sedang tidak baik-baik saja. Kerutan juga makin jelas terlihat di keningnya yang dulu dipenuhi guratan melengkung karena tawa. Alis matanya menyatu, mendesak seperti pikirannya yang sedang memikirkan sesuatu yang entah apa. Dan jangan kau tanyakan bagaimana ekspresi bibirnya. Ia tak lagi menyimpulkan senyum, menenggelamkan sepasang lesung pipi tidak simetris yang aku suka. Ada yang lepas dari genggaman tangannya. Ia tidak sehangat dulu. Genggamannya membuatku hilang diantah-berantah. Jari-jarinya hanya menyapa tanganku lemas, bukan mantap seperti yang biasa ia lakukan dulu. Seakan meninggalkanku untuk berlari sendiri…

  • Life,  Love Story

    Pada Kalimat yang Berjarak

    Pada kalimat yang berjarak itu tersimpul rindu yang terdiam. Kadang mengumpat kenangan, kadang bermekaran kata rindu. Pada kalimat yang berjarak itu timbul kepedulian. Kadang tentang pencapaian, kadang juga tentang mimpi yang terpendam. Pada kalimat yang berjarak itu ada kita. Yang tak saling melihat namun sama-sama tersenyum; yang tak saling mengungkap namun merindu; yang tak saling bertegur namun mengucap doa yang sama. Pada kalimat yang berjarak itu ada komposisi luka, bahagia, tawa, dan tangis. Kita.

  • Curhat,  Damn,  Galau,  Life,  Love Story

    Fiksi Untuk Sebuah Malam

    Yang sebenarnya saya butuhkan ketika ‘ini’ kembali terjadi adalah diam dan meresapi. Apa yang harus saya lakukan agar semuanya tak melebihi batas? Saat memejamkan mata dipenutup hari, saya selalu refleksi. Mengapa begini? Terjebak dan hampir jatuh untuk kedua kalinya. Ketegasan hilang ditutup rasa. Sungkan, enggan, dan menikmati. Kenapa saya menjadi seringan ini? dimana bantingan kuat yang memekakan telinga?  Yang saya butuhkan hanyalah segelas air putih untuk pendamping obat. Bukan, bukan bantuan wafer cokelat yang dikunyah halus seperti kemarin malam. Refleksi, refleksi, Diaz. Dua puluh-mu menanti. Siap menerkam dan menghantui. Apa yang telah kamu lakukan untuk perubahan?? Sahabatku, usai tawa ini, Izinkan aku bercerita:Telah jauh, ku mendaki. Sesak udara di atas puncak khayalan. Jangan…

  • Begadang,  Curhat,  Damn,  Galau,  I Think...,  Life,  Love Story

    Kelabu

    Kapan seseorang akan belajar mengerti? Pertanyaan itu terlintas tak sengaja ketika saya memikirkan sesuatu yang kelabu. Saya sedang berpikir, apakah yang saya lakukan ini baik? Inilah saya, kadang terlalu banyak memikirkan pendapat orang lain. Seperti mampet. Kalau diibaratkan nyanyian, saya hanya akan berusaha bernyanyi dengan suara falset hingga suara saya menipis, memburuk, dan hilang, dibandingkan dengan teriakan bernada dengan sedikit resiko. Fals. “Kapan seseorang akan belajar mengerti” adalah sebuah pertanyaan dan pernyataan yang egois. Ya, saya tahu itu. Tapi kapan, kapan seorang manusia bisa lepas dari keegoisan? Tentang kelabu ini, membuat saya sedikit bimbang. Saya terperangkap lagi. Ada seseorang yang menuang hitam diatas kelabu yang hampir saya buat menjadi putih. Kata seorang teman, “Kamu nggak bakal…