• Uncategorized

    #7 Tangled Threads

    Source   Dinda masih duduk didalam Mostach. Gelasnya sudah diganti dengan yang baru, segelas ice banana blue untuk kembali menyegarkan pikirannya. Ia kembali menyulut sebatang rokok, rokok ketiga yang ia hisap setelah Sella memutuskan untuk pulang dan beristirahat, menutup harinya yang buruk dengan cepat. Tak lama, suara derap langkah kaki terdengar mendekati meja Dinda. Lelaki itu. Ia lalu duduk di hadapannya dan menatap matanya tegas. Dinda kehabisan kata-kata. Matanya sibuk menerawang keluar jendela, membayangkan kalau ini semua tidak pernah terjadi. “Bagaimana?” Tanya lelaki itu singkat. Dinda menggeleng. Beberapa saat kemudian, tangisnya tumpah. Batinnya teriris oleh sikapnya sendiri. [4…] cerita sebelumnya bisa dibaca disini.

  • Uncategorized

    Morning Bird

    Source Lagi, pagi ini puluhan burung-burung kecil riuh berkicauan diatas genting kostan. Suaranya yang merdu berhasil membangunkan saya yang semalam tertidur karena kelelahan. Percayalah, semerdu apapun suara yang membangunkanmu di pagi hari, tetap saja itu pagi hari. Kasur adalah tempat yang terbaik, membuka mata adalah usaha yang paling sulit. Tertular virus teknologi masa kini, diiringi kicauan burung-burung, saya menyempatkan diri merogoh sisi kasur mencari smartphone untuk memeriksa kicauan di dunia maya. Miris bukan, ketika mengetahui bahwa hal yang pertama kali kau cari ketika bangun tidur adalah smartphone-mu, bukan segelas air putih ataupun pekerjaan tak kunjung selesai yang kau tinggal tidur semalam. Kicauannya kosong, tanpa kamu. Lama, pikirian ini kemudian melantun.…

  • Uncategorized

    Secangkir Cokelat Panas

    Saya ambruk. Debat yang berkecamuk dalam pikiran kini bergerombol menyerang fisik. Mata saya dipenuhi bayangan kunang-kunang kuning yang enggan hilang walau sudah mengerjapkan mata beberapa kali. Semua berwarna terang, semua terasa bergoyang. Lalu saya duduk menepi sebelum ambruk. Saya benci memejamkan mata ketika pikiran masih aktif bergejolak. Tapi toh sama saja jika membuka mata pun saya tetap tidak bisa melihat apa-apa. Sambil terpejam, debat itu datang lagi. Membisiki saya sampai muak. Menyebut beberapa kata kunci yang membuat saya geram. Tapi daya saya sudah habis untuk berkompromi dengan fisik yang juga makin melemah. Kata Dee, apa yang lebih dibutuhkan oleh seseorang yang sedang sakit selain segelas air putih dan obat pereda…

  • Uncategorized

    Life’s Carnival

    [jok] Tidak ada yang tahu alasan pasti mengapa kita malah menangis ketika pertama kali lahir di dunia. Beberapa akademisi menjelaskan, ‘wajar bagi seorang bayi yang baru lahir menangis. Jika tidak, berarti ada beberapa organ vitalnya yang lambat berfungsi.’ Sementara itu, yang lain menjelaskan, ‘aneh bagi seorang bayi menangis. Kenapa mereka menangis? Sudah jelas, pasti mereka sedih karena telah diturunkan ke bumi. Mereka lebih suka melihat keindahan surga dibandingkan dengan melihat kebobrokan negara ini yang makin lama makin tidak terkendali.’  Yang tidak kita tahu, tanpa disadari kita telah tumbuh, melupakan, dan tidak mau tahu alasan kenapa kita menangis ketika lahir. Waktu adalah mikro-monster kasatmata yang mematikan. Menggrogotimu dari dalam, menanamkan keangkuhan…

  • Uncategorized

    #KembaliKePlurk

    Semuanya bermula dari obrolan iseng. Malam itu kami berkumpul di kostan Teteh. Perkumpulan itu disengaja, karena pada hari itu pula kami sedang memberikan sedikit kejutan berupa nasi tumpeng pada Teteh yang sudah menginjak usia 23 (mantap teh, sekarang usia kita beda dua tahun! :P). Seperti layaknya perempuan lainnya yang sedang berkumpul, kami mulai ngobrol ngolor-ngidul. Kebanyakan tentang dunia perkuliahan: apa yang dulu pernah terjadi, kenapa si ini bisa begini, kenapa si anu bisa begitu, dan perintilan masalah lainnya hingga akhirnya obrolan kami mulai digiring oleh Plurk. Ya, Plurk adalah salah satu situs jejaring sosial yang (sayangnya) kurang populer di masa kini. Tiga sampai empat tahun yang lalu, Plurk (di mata…