Pilih Laman
Jadi ceritanya saya sudah kembali kerja kantoran selama satu bulan terakhir. Rasanya nyess gitu, dan agak nano-nano juga sih karena harus beradaptasi dari ritme kegiatan rumah tangga selama satu setengah tahun ke belakang, dengan persiapan (kembali) memasuki dunia kerja. Tapi seperti yang pernah saya tulis di beberapa postingan sebelumnya, saya memang berniat untuk kerja kantoran lagi so the show must go on.

Ada beberapa tantangan yang saya rasakan ketika berusaha kembali ke ‘medan perang’. Beda banget pokoknya sama waktu masih single dulu (iyalah!). Yang paling kelihatan dan saya sadari banget itu kayak: sudah tidak lagi ngoyo dengan karir, lebih fleksibel (dan berdamai) dengan keadaan, hingga struggling untuk tetap waras ditengah remuknya badan dan pikiran wkwk.
Tapi walaupun begitu, saya merasa dengan kembali bekerja kantoran, saya memliki tempat untuk menyalurkan energi yang sebelumnya nggak bisa saya salurkan di rumah. Misal, saya jadi punya fokus baru yang nggak melulu tentang anak, punya banyak temen ngobrol dan ngemol baru (nggak suami lagi suami lagi), dan tentunya ada topik dan bahasan baru yang nggak melulu soal rumah! Ini bukan berarti dengan bekerja saya jadi abai dengan anak dan keluarga ya. Lebih ke kembali menemukan apa yang selama ini saya punya tapi sempat nggak kelihatan.
 
  • The Effort and The Mental Management.
    So here I am. Minggu malam masih ngetik padahal besok senin harus berangkat pagi-pagi sekali. Jarak kantor dan rumah itu jauh banget, bisa satu jam perjalanan lewat tol (wkwk). Rutinitas paginya dimulai dari mempersiapkan keperluan pribadi dan baby D, drop baby D ke daycare, lalu baru menuju tempat kerja. Sering kali kerjanya pun harus mobile kesana-sini karena tuntuan, yang membuat saya banyak menghabiskan waktu di jalan. Sampai rumah rasanya badan kayak rontok, hahaha. Yah semoga menjadi motivasi aja sih tahun depan bisa pindah kontrakan deket kantor :’)

    Kalau lagi diem ngelamun gitu kadang suka kepikiran sama Jakarta. The work atmosphere, the flexibility, the friends, ah how I miss them so much. Bukan kurang bersyukur, tapi lebih ke tipikal manusia normal yang suka membandingkan sih. Lalu pikiran-pikiran kayak gini nih selalu ditebas dengan pikiran lain kayak; gimana coba kalau tetep di Jakarta dengan kondisi udah punya anak gini, apa sanggup bayar daycarenya? Apa sanggup menghadapi macetnya? Apa bisa bertahan hidup? Lalu saya pun kembali bersyukur. Yah, mentok-mentok nangis dulu lah baru bisa bersyukur. Haha, iya saya ngerasa banyak banget perubahan dari segi mental belakangan ini especially di bagian nangis. Rasanya jadi lebih cengeng aja gitu :’)

    Baca juga: Definisi Bahagia


    Jadi ya, saya rasa memang perlu mental management yang baik juga di periode transisi ini. Tapi Alhamdulillahnya entah kenapa rasanya dengan kondisi seperti ini saya merasa jauuuuh lebih baik dibandingkan ketika di rumah dulu. Kalau dulu rasanya saya lebih sering marah-marah (masih suka juga sih tapi udah mendingan lah haha) nggak jelas. Kalau sekarang rasanya kayak energi marah-marah saya tersalurkan gitu sama aktivitas kantor. Muehehehehe.

  • Skill Management.
    Memasuki lagi dunia kerja juga menuntut saya untuk kembali belajar banyak hal. Ya biar nggak ketinggalan banget lah sama rekan kerja yang lain, hehe. Apalagi wilayah kerja saya yang sekarang sama sekali baru, maksudnya, beda jauh dari background sekolah dan pekerjaan sebelumnya. But somehow this kind of feeling makes me more excited. Percaya juga sih nggak ada kata telat untuk belajar dan nambah ilmu. Setuju?

    Walau kadang merasa sangat insecure dengan diri sendiri tapi ya dijalani aja. Inget aja ke prinsip awal kalau memang sekarang sudah tidak ngoyo lagi. Tetap berusaha tapi let God do the rest.

 
  • It’s About Balancing
    Kadang ada aja gitu satu-dua hal yang membuat kesempatan-kesempatan tergerus, tapi lalu ingat lagi life is about balancing; you get some, you lose some. Jadi ya lebih sadar aja kalau hidup adalah tentang pilihan DAN bagaimana kita bisa membuat itu seimbang sesuai dengan standar atau prinsip diri sendiri (atau keluarga).
So yeah, here I am. Apakah akan kuat menghadapi tantangan selanjutnya? Harusnya bisa, sih. We’ll see
Baca juga:
Huf, what a hectic month! Bulan ini sungguh benar-benar menyita energi karena memang lagi transisi bekerja di tempat yang baru.…
28
0
Comments herex
()
x