kenapa-tidak-pumping-asi-lagi
Being A Mom

Kenapa Tidak Pumping ASI Lagi?

Juli ini Baby D genap 23 bulan. Kok deg-degan ya rasanya menjelang anak berusia 2 tahun, tuh? Kalau diingat-ingat lagi perkembangan Baby D dari lahir sampai sekarang rasanya bikin terharu banget. Dari operasi lahiran, begadang mengASIhi, gak mau makan, sampai sekarang lahap banget makannya dan udah pinter main sepeda (balance bike). Time flies, it does. Milestones Baby D juga berpengaruh banyak terhadap perkembangan emosional saya. Dari dulu di rumah, sekarang bekerja, dari dulu bisa full ASI, menyediakan waktu untuk pumping, berhenti pumping dan sekarang sudah mendapat asupan susu tambahan.

Pumping ASI = Perjalanan Emosional

Saya mulai kembali bekerja ketika Baby D berusia 1 tahun (12 bulan). Dari situ pula saya mulai rajin pumping lagi. Iya, lagi, karena dulu kan pumpingnya kalau dirasa β€œpenuh” aja. Saya jarang banget nyetok karena Baby D lumayan susah untuk minum ASIP (Air Susu Ibu Perah), baik menggunakan dot, sedotan, atau gelas. Maka ketika mulai bekerja, keinget lagi strugglenya kaya apa untuk mengajari Baby D minum ASIP πŸ˜‘

Tapi bersyukur banget rasanya daycare Baby D ini sangat telaten memberikan ASIPnya. Semua ASIP habis ludesssss. Makin semangat pumping dong tentunya? :p

Lalu apakah makin semangat pumping? Iya! Apakah perjalanannya mudah? NGGAK SAMA SEKALI. Mencari ruangan laktasi (di musala, di mobil, sampai mlipir ke ruang laktasi di mall favorit :p), me-manage storage ASIP, dan membagi waktu dengan jam kerja, semuanya itu rasanya sangat menantang apalagi karena saya kerja lapangan dan ketemu banyak orang. Jadi ya agak tricky, sih. Barang bawaan setiap hari pun jangan ditanya! Hahaha, kocak juga ya kalau diingat: ada tas kerja, tas pumping, dan tas keperluan Baby D di daycare.

peralatan tempur pumping setiap hari
Barang bawaan setiap hari: 3 tas!
Kzl banget, btw, difotoin alakadarnya sama Ayah D πŸ˜‘
hasil-pumping-ASI
Pumping Everywhere!

Sehari saya biasanya pumping satu sampai dua kali. Alhamdulillah saya bersyukur Allah memberikan rezeki ASI yang cukup. Dalam sehari saya bisa membawa satu sampai dua plastik ASI 120-180ml. Menurut saya itu cukup banget untuk bekal Baby D di daycare karena prinsip saya makanan yang masuk ke badannya (MPASI) harus mulai lebih banyak daripada ASI nya. Baby D juga saya bekali susu resep dari dokter karena waktu itu BB nya mengkhawatirkan (auto nanges kalau inget). Dan, kalau di rumah Baby D masih nenen langsung. Jadi, ya, 2 plastik penuh cinta itu cukup, lah 😊

Lalu Kenapa Berhenti Pumping?

Ketika usia Baby D 18 bulan, kami (saya dan suami) karena satu dan lain hal sepakat untuk pindah daycare. Ini sebenarnya menguras emosi juga sih karena saya sudah terlanjur cinta sama daycare yang pertama. Tapi kalau nggak pindah, suasana mental saya pasti akan lebih berantakan lagi karena daycare 1 itu jauh banget. SUPER extra melelahkan bagi saya dan Baby D yang harus berangkat jam 6 pagi paling lambat setiap harinya, dan sampai rumah jam 6 sore. Capeknya masih kebayang sih. Huhu..

Nah semenjak di daycare baru ini, entah kenapa Baby D menolak untuk minum ASIP. Semua bekal ASIP dalam satu botol sedotan selalu bersisa, bahkan nggak diminum sama sekali. KAN SAYA KESEL YA πŸ˜‚ Udah pumping capek-capek, curi-curi waktu saat kerja, nyari storage ASIP (dulu di kantor nggak ada kulkas) yang harus nitip ke kantor tetangga, eh sampe daycare nggak diminum! Akhirnya saya putuskan untuk berhenti pumping aja. HAHAHAHAHA.

Se receh itu memang alasannya. Ya maaf aja kalau ternyata saya nggak ambi-ambi banget dalam dunia per ASIP-an ini. 6 bulan merasakan drama ASIP sudah lebih dari cukup lah~ πŸ˜‚

Tapi memang ya semua hal itu ada sisi lainnya. Di daycare yang baru ini, Baby D makin ganas makannya. Literally makaaaaaaaan mulu! Entahlah apa karena aktivitas fisiknya yang banyak, atau termotivasi oleh teman-temannya, atau ketelatenan para pengasuh? Pokoknya berat badan Baby D naik drastis ke angka normal dan susu resep dokter mulai ditinggalkan. Seneng banget akutuuuh! 😊

Sampai sekarang, di kulkas masih ada 6 ASIP beku yang nggak tahu mau saya apain. Mungkin akan saya biarkan aja di kulkas sebagai kenang-kenangan? Entahlah, biar waktu yang akan menjawabnya.

Sekarang Baby D Minum Apa?

Nenen, air putih, UHT, dan susu bubuk formula. Iya, Baby D sampai detik ini (23 bulan) masih nenen 1x sehari. Biasanya sebelum tidur aja sama kalau terbangun tengah malam (eh berarti bukan satu kali sehari ya? πŸ˜›)

Kenapa memilih UHT? Sebenarnya masih belajar sih karena saya di masa mendatang nggak mau Baby D terbiasa pakai dot jadi enak kan kalau UHT tinggal colok sedotan aja (maafkan aku lingkungan). Lalu, menurut artikel-artikel yang saya baca, kandungan susu UHT lebih tinggi dibandingkan dengan susu bubuk karena tidak adanya proses pengalihan zat dari cair ke bubuk (padat) yang mengubah komposisi protein hewaninya berkurang hingga 30%.

Trus kok masih dikasih susu bubuk? Karena anaknya kepingin gigit-gigit dot juga kayak teman-temannya πŸ˜‚. Lha iya jadinya tetep pake dot juga. Ya lagi-lagi mohon maap nih, saya nggak ambi-ambi amat dalam dunia persusuan ini, wkwk. Baby D minum susu bubuk sebelum tidur siang di daycare. Kadang minum UHT nya aja, kadang juga nggak diminum dua-duanya, ya suka-suka mood dia aja karena kalau saya sih prinsipnya susu itu PENDAMPING. Yang utama MAKAN BERGIZI. Dan, ya, semua drama persusuan selain nenen ini hanya berlaku di daycare aja. Kalau di rumah dia nggak pernah minta.

Galau Hal Lain.

Sekarang saya malah galau hal lain: Sapih! Entah gimana ini mulai prakteknya… We’ll see deh nanti ya. Yang penting sekarang satu chapter closed dulu. Berdamai dulu, istirahat dulu, dan mengucapkan terima kasih kepada diri sendiri dulu. Terimakasih, diriku, karena sudah cukup berupaya memperjuangkan ASIP walau hasilnya tidak seberapa. Semoga di perjuangan ASIP selanjutnya juga selalu dilancarkan dan diberikan rezeki. Amin.

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x