Koin #FF2in1 (1)

Written by Diaz Bela

Seorang ibu milenial, ex-News TV Reporter, dan digital enthusiast. Saya menulis tentang hal-hal yang saya sukai: pengalaman, opini, traveling, kuliner, dan lain-lain.

14 Agustus 2013

Ini keping terakhir, sisa dari bekalku yang tak seberapa. Menetes peluh demi mendengar suara merdumu, nona, aku rela.

Di ujung gagang ini kuhela napas penuh deru. Habis berlari menghindar dari letusan timah panas yang diserangkan segerombolan orang berseragam yang tak berprikemanusiaan. Menganggap aku, dan sekawanan gerombolanku bagai sekumpulan hewan ternak tak berakal yang siap menemui ajalnya di ujung timah panas itu.

Satu nada masih berdering, menggantung dalam satu oktaf putus-putus. Kau masih juga belum mengangkat teleponku. Sedang apa kau, Nona?

Kotak 1x1meter ini menyelamatkanku. Untuk sementara. Di luar masih riuh redam: orang-orang bergejolak, berteriak bersahut-sahutan menyambut perubahan yang akan datang.  Aku salah satu diantaranya, Nona. Aku.

Nada satu oktaf itu terputus. Tarikan napasmu di ujung sana merangsang pikiranku untuk segera menemuimu. Segera, Nona. Segera.

“Halo?”

“Nina?”

“Ya? Ini.. Mas Budi?” nadamu sedikit cemas.

“Ya. Catat ini. Tahun 1998. Tahun perubahan.”

Dan aku bisa mendengar kau terisak diujung sana.

Besok aku pulang.

Arsip

MEMBER OF:

logo komunitas blog
kumpulan emak blogger
Logo Komunitas BRT Network
Seedbacklink

Baca Juga Artikel Berikut:

Lost

SourceAda yang hilang dari sorot matanya.Mata yang biasanya menatapku tajam itu tiba-tiba melunak, hampa tanpa...

Ambivalensi

Dalam Kilat mata itu, ada keraguan yang dipendam sejak lama. Yang muncul sesekali ketika disulut, seperti anjing...

Kisah Petik #FF2in1 (2)

Namaku Petik, usiaku 40 tahun, cukup tua untuk menjadi sejarah.Tak seperti biasanya, hari ini aku duduk di sudut...

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments