Pilih Laman

Kurang lebih satu minggu sebelum saya kembali ngantor, baby D mengeluh kalau penisnya sakit. Wah, langsung malamnya kami pergi ke dokter spesialis anak untuk periksa. Ternyata, ada kotoran menumpuk di penisnya dan disarankan untuk melakukan sunat. Saya dan suami hanya bengong aja pada saat itu, karena memang kami tidak ada rencana akan melakukan sunat dalam waktu dekat.

Lanjut kata dokter, sebenarnya bisa aja sih kalau nggak sunat, tapi nanti keluhan seperti ini akan kembali datang karena penis tidak bisa bersih secara sempurna sebelum disunat. Duh, bayanginnya aja udah nggak tega duluan. Belum lagi ribetnya nanti mesti bolak balik ke rumah sakit.

Akhirnya setelah diskusi kami memutuskan untuk mengikuti saran dokter untuk melakukan sunat. Pada saat yang bersamaan, saya langsung minta surat rujukan sunat kepada dokter bedah untuk melakukan sunat. Tapi, dokter anak ini bilang kalau sebenarnya sunat bisa dilakukan dimana saja, tidak harus di rumah sakit ASALKAN dilakukan oleh dokter.

Tapi, pikirian saya waktu itu, karena semua biaya bisa ditanggung oleh asuransi, jadi nggak papa lah sunat di dokter spesialis bedah aja (HAHAHA).

Baca juga: Pengalaman Menggunakan Sepeda Balance Bike

Memilih Metode Sunat Untuk Anak Usia 3 Tahun

Saya ingat banget waktu konsultasi sama dokter anak itu hari Kamis malam. Sepulang dari rumah sakit sebenarnya saya langsung ngeblank karena it happen so fast. Pertama, baby D harus sunat di minggu ini juga karena saya udah mau kembali ngantor. Kedua, sunat di mana dan pakai metode apa?

Memang, pada awalnya saya kekeuh pengen banget Baby D sunat di dokter bedah. Tapi ternyata di rumah sakit ini hanya bisa menggunakan metode tradisional (dijahit) sementara saya nggak mau punya banyak drama pascasunat seperti jahitan yang basah, baby d nangis dan merengek yang berkepanjangan, dll.

Setelah dipikir-pikir, ketidakmauan saya ini terhadap proses sunat konvensional ini bisa muncul dari beberapa pengalaman di masa lalu. Pertama, saat menyaksikan adik laki-laki saya sunat dulu, saya masih ingat banget bagaimana dia mengalami kesakitan yang amat sangat dan apapun yang dilakukan ibu saya (seperti kipas-kipas jahitan penis, membelikan mainan, dll) itu sama sekali tidak berpengaruh. Lalu, saya juga sempat punya pengalaman yang nggak enak saat dulu operasi sesar dimana luka jahitan saya susah sekali sembuh dan kering. Butuh waktu yang lama, perawatan yang intens, dan hal lain yang membuat banyak hidup saya semakin rungsing di kala itu.

Maka dari itu, saya googling lah, riset-riset, dan tanya teman, kenalan, bahkan saudara yang memang berkecimpung di dunia kesehatan. Ternyata saya baru tahu kalau sekarang sudah banyak sekali metode sunat selain yang konvensional, yaitu klamp dan laser. Setelah menimbang-nimbang kekurangan dan kelebihan dari masing-masing, akhirnya pada hari Jumat (satu hari setelah konsultasi ke dokter anak) kami memutuskan untuk menggunakan metode klamp sebagai pilihan sunat baby D di usianya yang ke 3 tahun.

Kenapa Memilih Metode Sunat Klamp?

No ribet! Itu adalah pemikiran dan alasan pertama saya waktu itu. Karena memang testimoni dari orang yang pernah menyunat anaknya dengan metode ini selalu positif. Karena pada dasarnya metode ini kan nggak pakai jahit menjahit dan dilakukan tanpa berdarah sama sekali! Nah lho, bingung nggak tuh? :))

Sunat klamp adalah metode sunat (sirkumsisi) yang menggunakan clamp alias klem, yakni tabung plastik khusus yang memiliki ukuran bervariasi sesuai dengan ukuran penis. Prinsip sunat ini adalah dengan menjepit kulit di ujung penis (kulup) menggunakan alat sekali pakai. Nantinya, kulup tersebut dipotong dengan pisau bedah tanpa dijahit. — sehatq.com

Selain itu, menurut beberapa penelitian sunat dengan metode klamp ini juga memliki beberapa kelebihan. Ini aku rangkum beberapa diantaranya sesuai dengan pengalamanku setelah melakukan sunat klamp ya.

Kelebihan Metode Sunat Klamp: 

  • Proses pengerjaan yang sangat cepat
  • Anak bisa langsung melakukan aktivitas
  • Proses perawatatan pascasunat mudah
  • Tidak ada jahitan SAMA SEKALI
  • Luka sunat BOLEH langsung terkena air (memudahkan saat pipis dan mandi)
kelebihan metode sunat klamp

Bagaimana Cara Membujuk Anak Usia 3 Tahun Untuk Mau Sunat

Masalah selanjutnya adalah, bagaimana cara membujuk Baby D supaya mau sunat? Ini aku dan suami bener-bener puter otak sih karena harus benar-benar dilakukan dengan tepat supaya Baby D langsung mau. 

Sebenarnya waktu itu kami tidak punya banyak waktu karena Baby D baru masuk sekolah full day, saya juga baru mau start kerja kantoran lagi. Kurang lebih gini timeline-nya::

  • Kamis: konsultasi ke dokter anak dan dinyatakan harus sunat
  • Jumat: riset dan setuju untuk melakukan sunat
  • Sabtu-minggu: rencana tindakan sunat
  • Senin-minggu: masa penyembuhan
  • Senin: saya mulai masuk kerja :’)

Makanya, proses pembujukan ini amat sangat penting dan harus zero mistake, wkwk. Lalu gimana caranya? Ternyata jawabannya simple: afirmasi dan kasih penjelasan.

Saya nggak tahu ya apa metode ini akan juga sama jika diaplikasikan pada anak-anak lain, tapi dari dulu saya selalu membiaskan untuk memberikan afirmasi dan penjelasan logis dalam melakukan suatu tindakan kepada Baby D. Mulai dari masa menyapih hingga toilet training, cara paling ampuh ya cuma ini.

Jadi, di hari Jumat itu saya langsung memberikan pemahaman yang kira-kira intinya seperti ini:

  • Penis Baby D ada kotorannya, jadi harus dibersihkan.
  • Cara membersihkannya adalah dengan sunat.
  • Sunat adalah memotong sebagian kulit penis yang dilakukan dokter.
  • Sunat itu sakit, tapi hanya sebentar aja kok.
  • Supaya tidak sakit, nanti habis sunat dikasih obat.
  • Obatnya kalau diminum bisa menghilangkan rasa sakit.

Setelah diberikan pemahaman itu, Baby D langsung mau dan setuju untuk sunat. Saya sih meragukan dia benar-benar paham ya (HAHAHA) tapi itu urusan belakangan, bisa masih terus diberikan penjelasan sambil jalan, yang penting mau dulu.

Lalu saya riset lagi nih tempat sunat yang bisa menggunakan metode Klamp di Serang, dan Alhamdulillah dapat! Lokasinya juga deket banget dari rumah! Sungguh sebuah takdir, hehehe..

Baca juga: Pengalaman Menyapih dengan Cinta (Weaning with love)

Hari H Baby D (Usia 3 Tahun) Sunat dengan Metode Klamp

pengalaman sunat klamp di terminal sunat serang

Kami memutuskan untuk melakukan tindakan sunat di hari minggu. Wah, langsung tuh riweuh semua keluarga ngundang keluarga lain untuk kumpul dan datang ke rumah saya. 

Beberapa keluarga ada yang nanya dan sedikit protes kenapa kok sunatnya mendadak sekali? Lah, saya juga langsung protes balik, kalau bisa milih juga saya nggak mau semua serba mendadak seperti ini.. Wkwkwk

Sebenarnya saya pribadi nggak masalah kalau peristiwa sunatan ini nggak dijadikan sebuah acara, tapi suami saya bilang kalau sunat adalah salah satu peristiwa akan dikenang oleh anak laki-laki sepanjang hidupnya. So yeah, dengan mengucapkan YOLO, kami mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumah. Makan-makan aja (dan pengajian yang ustadznya baru dipanggil Uwa saya ketika datang ke rumah, wkwkw)

Anyway, hari H sunat Baby D masih anteng aja (masih belum tahu apa yang akan terjadi kemudian HAHA). Kami memilih untuk sunat di Terminal Sunat Serang. Nggak nyesel sama sekali, worth every penny.

Tempatnya bagus, full AC (penting karena Serang panas banget), ada mini playground, dokternya asik, dapat dokumentasi (soft file), dapat souvenir, dapat sertifikat (ini buat apa ya hehe). Yang lebih asik lagi, seperti yang udah saya tulis sebelumnya, lokasinya deket banget dari rumah. Tinggal ngedip aja langsung nyampe (lebay).

Jadwal tindakan kami jam 10.30. Jam 10 kami sudah datang tapi ternyata ada keterlambatan dan Baby D baru disunat sekitar jam 11.30-an. Tapi nggak kerasa sih karena sambil nunggu pun dia asik main di playgroundnya sama anak-anak yang lain.

Tiba saat nama Baby D dipanggil, kami langsung masuk ke ruang tindakan. Dokternya sangat talkactive dan informatif sekali. Malah dia yang menyilakan saya untuk memberikan beberapa pertanyaan. Paling nggak bisa diginiin, jiwa ex-reporter saya pun membuncah (?) dan kami tanya-jawab dulu deh seputar metode klamp, perawatan, efek samping, dll.

Setelah dirasa puas, tindakan pun dilakukan. Ada dua metode pembiusan yang ditawarkan suntik dan semprot. Tentu sebagai tim nggak mau ribet, saya memilih metode bius semprot, dimana cairan bius disemprotkan ke bagian penis yang akan dibuka (CMIIW).

Mungkin karena kaget, Baby D yang anteng tiduran sambil main tab (tab punya dokter) langsung nangis meraung-raung. Padahal (kelihatannya sih) nggak sakit kok, hanya di semprot aja. Dokter pun sebelumnya sudah ngasih tahu ke baby D setiap akan melakukan sesuatu. Tapi untung nangisnya sebentar saja.

Setelah biusnya bekerja, langsung deh sat-set-sat-set dilakukan tindakan sunatnya. Saya dan suami juga ada di ruangan dan menyaksikan secara langsung. Semantara Baby D? Sibuk main tab, nggak (belum) merasakan apa-apa.

Emang sih cepet banget prosesnya nggak sampe 30 menit sudah selesai. Setelah selesai, kami diberikan informasi seputar cara merawat luka, durasi meminum obat, cara membersihkan penis, dan waktu kontrol untuk mencopt klamp (5 hari pascasunat). Kami juga diberikan bekal celana batok untuk dipakai dan melindungi penis dari gesekan celana luar.

Udah deh, gitu aja.

Baca juga: Belajar Bahasa Asing Seru dengan Hello Bana

Apa yang Terjadi Setelah Sunat dengan Metode Klamp

Diperjalanan pulang, eng-ing-eng, bius mulai hilang dan Baby D mulai merasakan sakit hingga nangis meraung-raung. Nah, untuk tempat sunatnya dekat, jadi bisa cepat sampai rumah dan istirahat.

Setelah nangis hebat, Baby D langsung minta minum obat karena sudah paham kalau minum obat sakitnya akan berkurang (sungguh sebuah kemajuan untuk anak yang nggak pernah mau minum obat, huhu, terharu..). Langsung lah saya minumkan paracetamol dan obat anti bengkak yang memang diresepkan dokter.

15 menit kemudian masih sakit tuh, masih nangis dan meraung-raung. Akhirnya saya belikan kinderjoy 5 buah (jauh sebelum ada berita bakteri salmonella). Mungkin dia seneng banget ya, secara sebelumnya nggak pernah saya beliin, jadi si kinderjoy-nya ini dia pegangin terus sampai akhirnya dia tidur :’)

Durasi tidurnya lumayan lama, ya, Baby D baru bangun sekitar jam 4 sore. Dan ketika bangun, you know what, dia sama sekali nggak nangis. Bahkan seterusnya sampai klamp nya dibuka di minggu depan, dia nggak nangis. Jadi drama persunatan ini cuma saya rasakan beberapa jam aja pasca obat biusnya habis :’)

Ketika bangun tidur Baby D minta jalan ke ruang tengah karena memang ada banyak keponakan yang datang. Kami pun bermain bersama: unboxing kinderjoy, merakit mainannya, buka kado-kado yang diberikan saudara, tiup lilin dan makan kue, makan nasi, nonton youtube bareng-bareng di tv, merakit lego, dll. Bener-bener melakukan aktivitas seperti biasa like nothing happen!

Hanya saja di hari H sunat, seharian Baby D menolak untuk pipis. Mungkin ngilu, ya. Walau sudah dipapah di toilet, tetap saja nggak mau pipis. Baiklah, kalau kebelet juga bakal pipis kok, udah sedia ember juga di samping tempat tidur sebagai pispot darurat. Atau kalau mau ngompol juga gak papa, udah ikhlas hahaha..

Baca juga: Hal yang Tidak Saya Tahu Sebelumnya tentang Menjadi Ibu Rumah Tangga

Perawatan Pascasunat dengan Metode Klamp

Perawatannya simple banget kok. Hanya meneteskan obat tetes di area klamp/pengait penisnya saja sehabis pipis dan mandi. Selain itu, ada obat paracetamol dan anti bengkak yang diminum sesuai dengan anjuran dokter.

Hamdalah banget di hari kedua Baby D udah minta pipis dan mandi. Setelahnya langsung saya teteskan obatnya dan dia agak meringis kesakitan gitu, walau nggak nangis.

Siangnya, masih di hari kedua, Baby D udah minta beli mainan dari angpau yang dia dapat. Awalnya kami nggak mau pergi karena takut Baby D masih kesakitan, tapi dia aktif aja lho, lari, jalan, joget, dan lompat-lompat di rumah! Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke mall untuk membelanjakan uang angpaunya.

Hari ketiga pascasunat, dia minta main ke taman dan main alat olahraga di sana, hari keempat, dia sudah bisa bersepeda, dan di hari kelima habis lepas klamp, dia minta ke mall dan main di perosotan dengan mode terbalik (lihat galeri).

Di hari kelima, sebelum kontrol dan melepas klamp, Baby D diminta untuk mandi berendam dengan air hangat dan mengoleskan lotion di klamp beberapa jam sebelum kontrol. Proses pencopotan klamp dilakukan oleh asisten dokter. Sempet drama nangis juga Baby D nya karena kaget, lalu setelah keluar dari ruangan selesai juga nangisnya. Lalu kami jalan-jalan ke mall lagi deh, hehe.

Ternyata, tidak ada keluhan yang berarti. Baby D bisa beraktivitas normal dan yaudah kayak nggak kesakitan aja gitu. Beda banget sama zaman adik saya sunat dulu deh pokoknya.

Setelah Semuanya Apakah Metode Sunat Klamp Recommended?

Yes 100%. Hasilnya rapi, less drama (at least in Baby D), perawatan mudah, dan biayanya cukup terjangkau.

Tapi, sama seperti menikah, saran saya sih sunat itu jangan dipaksa dan harus dijalankan dengan kesepakatan. Jadi tidak memaksa gitu, hehe.

Well, mungkin itu yang bisa aku ceritakan dari pengalamanku sunat anak usia 3 tahun dengan metode klamp. Kalau ada pertanyaan dan mau sharing boleh banget ya di kolom komentar. Sampai ketemu di postingan selanjutnya! 🙂

Baca juga:
Nggak kerasa sudah lebih dari 8 bulan saya pakai aplikasi blu by BCA Digital. Sejauh ini sangat nyaman dan mudah…
18
0
Comments herex
()
x