Featured,  Financial

Tetap Cerdas Kelola Keuangan (dan Menabung!) di Masa Pandemic Corona

Telat nggak sih hitungannya kalau mulai melek tentang keuangan dan investasi justru ketika sudah berkeluarga?

Karena kalau flashback zaman dulu pas masih belum menikah dan LDM (long distance married) kayaknya enjoy aja gitu “menikmati” pendapatan untuk hal-hal receh yang menyenangkan walaupun sebenarnya nggak penting-penting amat, hehe.

Tapiii mari sepakat untuk tidak ada kata terlambat dalam mulai mengelola keuangan dan investasi. Karena kan setiap orang punya triggered-nya sendiri untuk mulai berubah atau memilih untuk berpikir dan melakukan hal-hal yang sebelumnya nggak pernah terpikirkan, termasuk mengelola keuangan dan investasi. Kalau saya dulu mulai ke-triggered ketika hamil trisemester pertama. Fokus utama adalah menabung untuk biaya pendidikan Baby D. Dari situ langsung saya breakdown lagi tuh seperti apa kondisi keuangan saya dan suami, ke mana sebagian besar biaya digunakan, apa yang bisa ditekan untuk mewujudkan keinginan saya memiliki tabungan untuk biaya sekolah Baby D.

Baca juga: Definisi Bahagia

Lalu apakah menabung dan investasinya masih berjalan sampai sekarang? Alhamdulillah masih.

Saya paham, di masa pandemic corona seperti sekarang ini banyak yang tidak bisa melakukan hal atau kegiatan seperti yang biasa dilakukan di hari normal. Dan ini berpengaruh terhadap pendapatan atau gaji. Di masa seperti ini memang paling baik kalau kita sudah memiliki dana darurat, yaitu dana yang sengaja dialokasikan untuk keadaan genting atau kebutuhan mendadak sebesar sepersekian persen dari pendapatan utama.

Tapi seperti yang saya jelaskan sebelumnya, saya agak terlambat untuk melek masalah finansial, jadi dana daruratnya belum terbentuk, hehe. Ada yang sama kah? Ayo, mari rapatkan barisan.

***

  • Mengelola KeuanganLantas bagaimana untuk tetap cerdas mengelola keuangan di masa pandemic ini? Kalau saya, dimulai dengan mem-breakdown pengeluaran bulanan dengan MENCATAT nya sedetail mungkin. Terdengar simple dan klise? Tunggu dulu sampai kalian mencobanya, ya. Karena sebenarnya mencatat pengeluaran harian dalam satu bulan tidaklah semudah itu, huhu.

    Pertama, harus konsisten mencatat. Bisa gunakan aplikasi, catat manual di excel, atau tulis tangan di notebook, bebas. Kalau saya belakangan ini lagi pakai tabel yang diberikan gratis oleh Teh Annisast (nuhun teh!) and it works. Saya jadi tahu berapa post yang saya anggarkan untuk biaya hidup, biaya hura-hura (seperti jajan gula dan mecin), investasi skincare (uhuk, wajah glowing adalah investasi, uhuk), pengeluaran tak terduga lainnya, hingga impulsive buying yang saya lakukan.

    Dengan mencatat, saya jadi lebih paham kemana uang yang saya belanjakan dan dari situ saya bisa kembali mempertanyakan ke diri sendiri: apakah worth it beli makanan sebanyak xx rupiah? Kenapa mendadak jadi impulsive buyer saat sedang ke Gramedia padahal banyak buku yang belum selesai dibaca di rumah? Kenapa check out shopee untuk items yang nggak penting?

    Baca juga: 5 Buku Wajib Baca Sebelum 25

    Setelah itu langkah yang dilakukan selanjutnya adalah untuk tidak mengulanginya di bulan depan. Harus punya self control apalagi di masa pandemic seperti ini.

    Kedua, belanja secukupnya. Karena belanja bulanan adalah hal yang rutin dan esensial saya lakukan tiap bulannya, jadi saya tetap melakukannya juga di masa pandemic ini. Yang harus diingat, jangan jadikan masa pandemic sebagai ajang untuk “menimbun” keperluan pokok apalagi kalau nggak punya dana darurat (seperti saya). Iya, tetap boleh belanja bulanan, tapi plis atuh secukupnya saja.

    Tidak perlu beli beras 1 kuintal, gula 10 kilogram, telur 1 gerobak hanya untuk kebutuhan makan satu keluarga kecil (ayah, ibu, anak). Belanja lah secukupnya karena pertama, itu akan membuat kamu realistis dalam mengelola keuangan, kedua, kamu tidak mau defisit karena tanggalan masih ada sampai 30 hari ke depan, dan ketiga, BUAT APA??

    Ketiga, bedakan kebutuhan dan keinginan. Poin ini sangat berguna ketika kamu tanpa sadar akan melakukan impulsive buying. Please, selalu tanya ke diri sendiri minimal tiga kali apakah kamu benar-benar butuh barang tersebut sebelum membeli.

    Kalau saya, selain buku, impulsive buying yang paling sering dilakukan adalah membeli baju. Paling nggak bisa tuh kalau lihat baju apalagi kalau ada ukurannya (special size mari merapat), rasanya pengen langsung checkout dan bayar. Jadi yang saya lakukan adalah bertanya ke diri sendiri apakah saya butuh baju ini? Apakah uangnya tidak lebih baik dimasukan dalam post tabungan atau investasi?

    Lalu, saya mengukur tingkat kepentingan dan skala prioritas baju tersebut. Misal, saya hanya punya 1 baju batik sementara baju batik sangat diperlukan untuk ke kantor dan berkunjung ke mitra kantor di suasana formal (saya masih ngantor dan terkadang masih ketemu orang, btw, hehe). Karena pertimbangan itu akhirnya beli. Dan selalu seperti itu sebelum membeli sesuatu.

    Keempat, jujur kepada pasangan. Walau tinggal satu atap dan berbagi gaji, walau membeli sesuatu pakai uang dari pendapatan sendiri, saya selalu cerita ke suami setelah membeli sesuatu. Iya, setelah membeli wkwk. Karena itu tadi, saya sudah melakukan ketiga hal diatas jadi saya sharing nya setelah membeli sesuatu.

    Mau itu beli skincare, baju, bahkan cemilan Baby D saya selalu cerita. Kadang ada beberapa poin yang tidak bisa dipahami pasangan seperti: kenapa harus beli serum wajah dengan harga xx kalau ada merk lain dengan harga xx, atau kenapa harus punya baju batik 3 kalau 2 saja sudah cukup? Nah disitulah kewarasan saya dijaga karena harus sabar menjelaskan kalau yang saya beli itu kebutuhan dan tidak mengganggu cash flow keluarga.

    Ya, walaupun kadang masih ada aja 1-2 barang yang menurutnya nggak “lolos”, tapi yaudah namanya juga pendapat dari 2 kepala, nggak harus selalu sama 😀

    Baca juga: A Leader Perspective

***

  • Menabung.Selalu sisihkan sebagian pendapatan untuk menabung. PERIOD.

    Buat tujuan menabung dan terus menabunglah hingga tujuan kamu tercapai. Kenapa harus ada tujuannya? Karena kalau nabung aja tanpa tujuan yang jelas yakin deh uang kamu pasti ambyar.

    Beda dengan ketika punya tujuan menabung jelas seperti ingin ganti handphone. Saya akan cenderung menabung untuk memenuhi target atau harga handphone tersebut. Dan ketika mencairkan tabungannya tidak akan ada rasa penyesalan karena memang dari awal uang tersebut telah di dedikasikan untuk membeli barang tersebut.

    Kalau secara teknis saya memilih membedakan bank untuk berbagai jenis keperluan menabung. Alasannya simpel sih, biar nggak repot ketika men-track keuangan bulanan dan tidak tergiur melakukan transaksi online (apalagi ke marketplace!).

    Biasanya kalau nabung gini saya pakai Jenius. Cuma kemarin di twitter sempat viral kan ada nasabah Jenius yang uangnya mendadak hilang, jadi takut dan belum nabung disana lagi deh, hehe. Mungkin teman-teman ada rekomendasi?

    Kalau di masa pandemic ini saya masih belum punya goals menabung dengan jangka waktu dekat. Jadi fokus saya tetap ke tabungan untuk beli rumah (amin yang kenceng plis) dan tabungan untuk memiliki dana darurat. Nominal nabungnya juga nggak ngoyo banget karena sekarang banyak pengeluaran nggak terduga.

    Saya selalu menganggap kegiatan menabung itu sunah: kalau dilakukan dapat pahala, nggak dilakukan juga nggak apa-apa. Jadi kalau misalnya di bulan tertentu saya nggak bisa nabung karena ada keperluan mendesak ya tidak apa-apa #memaafkandirisendiri 😛

    Apalagi kalau punya cicilan, wuih. PLIS untuk membayar dulu cicilan diatas segalanya ketika hari pertama mendapatkan pendapatan atau gajian. Bayar dulu itu semua tagihan seperti listrik, telepon, internet, air, kendaraan, rumah, atau apapun itu SEBELUM mem-breakdown kebutuhan bulanan apalagi menabung.

    Menabunglah dengan uang dingin, uang yang memang tidak dialokasikan untuk apa-apa selain menabung.

  • Investasi.Ada beragam jenis investasi, mulai dari saham, reksadana, emas, tanah, rumah kontrakan, you name it. Sebagai kaum kelas menengah ngehe yang belum sanggup beli tanah (apalagi rumah), pilihan investasi saya tinggal saham, reksadana atau emas.

    Adik saya itu jago banget main saham. Di laptopnya ada aplikasi grafik-grafik gitu untuk memantau tren dan harga saham. Saya pernah diajarin dan dipinjemin buku tentang saham, tapi nggak ngerti-ngerti juga :’) Jadi saya langsung mencoret baik itu saham maupun reksadana sebagai pilihan investasi. Sisanya tinggal emas.

    Nah, masalahnya saya ini nggak suka pake perhiasan. Jadi buat apa sih beli emas? Lagipula Ibu saya cerita kalau beli emas itu ada potongan jasa design, lalu apakah untung?

    Ndlalah kok saya malah kecemplung kerja di instansi yang berhubungan langsung dengan emas. Jadi ternyata harga emas itu ada tiga: harga emas logam mulia (batangan), perhiasan, dan emas tabungan. Saya ini parnoan kalau menyimpan emas batangan di rumah, sewa deposit box di bank juga untuk apa, kayak udah punya banyak emas aja haha. Jadi pilihan investasi saya untuk sementara adalah tabungan emas batangan, dan itu sudah dimulai dari 2 tahun yang lalu.

    Nah yang perlu diingat: emas adalah investasi jangka panjang. Jadi kalau pengen mendapatkan untung dalam jangka waktu pendek, bisa pilih jenis investasi lain seperti saham atau reksadana. Banyak juga yang tanya, berapa keuntungan yang didapatkan setelah menabung emas selama xx tahun? Apakah harganya pasti akan naik? Gimana kalau harganya turun?

    Baca juga: Makan Gratis Seharian Ketika Ulang Tahun

    Karena emas itu harganya fluktuatif, jadi agak susah untuk menghitung berapa keuntungan dan ruginya secara pasti. Tapi kalau menurut saya emas itu lebih “menyelamatkan” nilai mata uang di masa tertentu. Misalnya, jika 10 tahun lalu 10 gram emas nilainya sesuai untuk membeli seekor kambing, 10 tahun mendatang juga nilainya akan sama untuk membeli kambing di waktu itu. Lebih kepada memanfaatkan sifatnya sebagai logam mulia anti inflasi, sih. Jadi, ya, dilakukan saja menabung emasnya daripada nggak ada investasi sama sekali 😇

    Lalu apakah tetap beli emas di masa pandemic seperti ini? Iya.

    Apakah rugi membeli emas di masa pandemic seperti ini? Nggak tau :’)

    Ya istiqomah aja karena kalau nggak dipostkan untuk investasi uangnya pasti menguap entah ke mana. Lagipula saya nggak tau apakah harganya akan naik atau turun di beberapa waktu kedepan. Beberapa media bisnis malah menghitung tren kenaikan emas di beberapa tahun ke depan. Jadi nggak ada salahnya kan kalau tetap investasi?

    Obsesi banget emang karena tujuan investasinya masih untuk sekolah Baby D. Beli semampunya saja karena kan sifatnya investasi dalam bentuk tabungan, bukan pembelian batangan secara fisik. Dan perlu diingat investasilah pakai UANG DINGIN, alias uang yang memang belum ada posnya buat apa-apa. Kalau tidak punya ya tunda dulu investasinya daripada memaksakan 🙂

    ***

Kenapa tulisan ini jadi panjang sekali? :’)

Yah jadi begitulah, saya bukan ahli ekonomi, nggak ada basic financial planner juga, tapi semoga dengan sharing ini bisa memberikan manfaat buat kamu yang lagi galau mengatur keuangan di masa pandemic corona seperti sekarang. 🙂

Semoga situasi seperti ini cepat berlalu dan kita semua bisa beraktifitas seperti biasa. Amiiin 🙂

Lalu, gimana kondisi keuangan kamu di masa pandemic corona?

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
@pohontomat | Triyatni Ashari

Bener sih ya harus tahu mana keinginan dan kebutuhan. Kadang mau ngemil ini itu termasuk keinginan aja ya? Hehe. Selama pandemi ini Alhamdulillah masih aman. Tapi kasihan banyak yang PHK di luar sana

2
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x